<p dir="ltr">Berdasarkan hasil penelitian disertasi Dr. Zulkarnain Hamson yang dipresentasikan pada 5 November 2025, di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Model "Jembatan Etika Glokal" mendapatkan landasan akademis yang kuat. Penelitiannya yang berjudul "Etika Media Digital Berbasis Kearifan Lokal dalam Praktik Media Baru" DOI: 10.13140/RG.2.2.20729.33127 memberikan kontribusi signifikan dalam memetakan bagaimana kreator konten menavigasi benturan antara pengaruh global dan nilai lokal. Berikut adalah integrasi dan temuan Dr. Zulkarnain Hamson ke dalam model tersebut: Model Etika Digital "Glokal" Hamson (2025). Dr. Zulkarnain Hamson memperkenalkan konsep ini sebagai solusi atas tarikan antara sistem nilai global dan kearifan lokal di platform digital: 1. Komponen Utama Model: a) Hegemoni Global (Input): Standar digital universal yang sering membawa residu kolonialisme data dan standarisasi perilaku yang meminggirkan identitas spesifik; b) Kearifan Lokal (Basis): Fokus utama penelitian Dr. Hamson adalah penggunaan kearifan lokal (seperti budaya di Kota Makassar) sebagai jangkar moral dalam bermedia baru; c) Jembatan Etika Glokal (Proses): Dr. Hamson mengidentifikasi ini sebagai "hasil kompromi" di mana kreator konten melakukan negosiasi etis untuk menciptakan keseimbangan antara tuntutan teknis-global dan norma sosial-lokal; 2. Temuan Strategis Disertasi (5 November 2025): a) Hirarki Pengaruh: Penelitiannya mengungkap bahwa praktik etika kreator konten sangat dipengaruhi oleh hirarki nilai yang menggabungkan kepatuhan pada aturan platform (global) dengan tanggung jawab moral kepada komunitas asal (lokal); b) Dekolonisasi Digital: Dr. Hamson menekankan pentingnya memerangi eksploitasi budaya melalui konten yang otentik, di mana identitas lokal tidak hanya dijadikan objek tontonan tetapi menjadi subjek yang berdaulat: c) Mitigasi Dampak Negatif: Model ini menggunakan kearifan lokal sebagai filter untuk meminimalisir penyebaran misinformasi dan ujaran kebencian yang sering terakselerasi oleh algoritma global. 3. Output: Praktik Media Baru yang Bertanggung Jawab Melalui disertasi ini, Dr. Zulkarnain Hamson merumuskan bahwa media baru di Indonesia harus bertransformasi menjadi ruang yang: a) Partisipatif: Melibatkan narasi akar rumput; b) Respek Identitas: Menghormati simbol dan nilai-nilai lokal guna menghindari benturan sosial; c) Otentik: Menghasilkan konten yang memiliki kredibilitas etis karena berakar pada konteks nyata masyarakatnya. Model ini kini menjadi rujukan penting dalam studi komunikasi di Indonesia, khususnya dalam menyeimbangkan percepatan teknologi dengan ketahanan budaya nasional.</p>